Mencari

Seorang investor selalu YAKIN bahwa rejeki itu ada di pasar Modal. Tugas sejatinya adalah mencari. Keindahannya adalah dalam berusaha menemukan. Akhirnya, kepuasannya tatkala menemukan apa yang diinginkannya
Tampilkan postingan dengan label koleksi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label koleksi. Tampilkan semua postingan

Kamis, 25 April 2013

Saham Jangkar 20130414



Saham Jangkar

Adalah saham-saham yang menempati urutan 29 sampai dengan 40 dari daftar Fundamen Top40 edisi tanggal 14 April 2013 yang lalu dan secara fundamental masih cukup layak untuk dikoleksi,



Kecuali DILD hampir semua saham jangkar memiliki ROE yang lumayan sampai bagus. Pertumbuhan di tahun lalu, kecuali UNTR dan PTRO positif, beberapa bahkan sangat mengesankan. Faktor-faktor lain yang menyebabkan saham-saham ini masih berhak duduk dalam daftar adalah, PE, Minat investor asing, pertumbuhan sales selama 5 tahun ini, rata-rata transaksi harian dll.

Tentu saja investor harus memperhitungkan kapan saat yang paling tepat untuk membeli dan kapan untuk menjual. Disclaimer on.

Semoga trading anda lebih menyenangkan.

Kamis, 07 Maret 2013

Eliminasi




Saya lupa tepatnya, mungkin awal 2009, saat itu pasar sedang bearish. Satu persatu saham yang fundamental bagus masuk dalam basket harga discount. Dalam table excel, lampu hijau menyala: BUY. Itu instruksi yang sangat sulit untuk ditolak. Tidak ada main feeling, system sudah mengatur, formula excel menetapkan IF, bobot fundamental melampaui bobot batas minimal AND harga sudah under-valued, maka lampu hijau menyala. Beli. Hari demi hari lampu hijau baru terus menyala dan pada akhir minggu saya sudah mengkoleksi 9 saham baru. Terlalu banyak memang, tapi saya percaya kepada system yang saya tetapkan sendiri secara konsisten.

Celakanya, ternyata harga-harga merosot terus. Dengan sisa modal yang ada, saya hanya mampu dua kali averaging down. Modal sudah habis untuk memborong dan tidak ada sisa lagi untuk membeli saham. Terpaksa saya melakukan langkah ELIMINASI. Saya pilih saham yang bobot fundamentalnya paling tinggi. Ternyata saya temukan saham tersebut adalah BVIC, Bank Victoria! Surprise? Sebuah Bank kecil yang tidak memiliki kantor cabang selain di Jakarta. Market Capitalisasinya juga kecil, nyaris tidak masuk threshold.

Saya teliti kembali Bank tersebut dengan melakukan deep investigasi. Growth selama 5 tahun terakhir luar biasa bagus, rata-rata diatas 30%. Tahunan maupun triwulan bagus. Margin, karena tidak banyak cost, juga bagus. Setelah yakin ini saham yang terbaik, saya putuskan BVIC untuk menjadi LAST RESORT.

Pasar terus turun, namun karena saya membeli semua saham pada harga discount, maka kadang-kadang ada untung sedikit atau kembali ke par, segera saya jual dan saya alihkan ke BVIC. Namun BVIC pun terus turun harganya, terpaksa saya memilih dari koleksi saham saya mana yang LOSS nya paling kecil, saya jual dan saya belikan kembali BVIC. Dari kisaran 140 per saham, sampai 114 per saham. Akhirnya semua saham saya telah saya jual dan tinggal satu-satunya: BVIC. Semua modal saya tertanam di BVIC. Dan saya tidak mampu lagi melawan penurunan BVIC. Surender.

Saya kira semua investor mengalami nasib yang sama. Bedanya umumnya para investor sudah melakukan stop-loss, sehingga yang tersisa adalah modal berupa CASH dan mengalami REAL LOST. Sedangkan saya modalnya juga tergerus sekitar 30%, bukan berupa dana tapi berupa SAHAM BVIC, sehingga saya baru mengalami POTENTIAL LOST, belum tentu rugi, masih ada harapan. Dan keadaan side-way dalam posisi rendah berjalan beberapa minggu, bahkan bulan. Saat itu kita hanya bisa menunggu.

Akhirnya terjadi jugalah pembalikan dan dugaan saya tepat. BVIC lah yang larinya paling kencang. Saya tidak terlalu sabar, sebelum target di kisaran 170-an, saya sudah jual di kisaran 160, yang penting saya masih bisa untung dan tidak sedikit.

Salam.

Kamis, 10 Januari 2013

Sang Kolektor



Mas Hary teman saya meminta tolong untuk menjualkan sejumlah lembaran saham UNVR dan saham GDYR warisan almarhum ayahnya. Saham-saham tersebut tidak sampai satu lot dan menurut nilaikan sekarang sekitar empat juta rupiah lebih sedikit. Tentu saja dia kecewa berat, dia berpikir warisan yang berharga dan sangat di jaga dengan baik ini nilainya sampai puluhan juta rupiah. Namun kemudian saya menghibur,

-          Pak itu nilai sekarang, tapi mungkin saja saham UNVR itu sudah mengalami beberapa kali splitted sejak tahun tujuh puluhan. Baiknya ditanyakan ke sekuritas.

Saya kemudian menjelaskan prinsip split-out saham menjadi beberapa saham. Harapannya kembali mencuat dan saya bawa ke Securitas dimana saya menjadi membernya. Tahukah anda, berapa nilai beberapa lembar saham UNVR itu sekarang ? Lebih dari 160 juta rupiah !!

Sahabat saya itu memang memang mendapatkan harta warisan yang lumayan besar. Kolektor saham memang bisa saja beruntung bila sahamnya seperti UNVR yang sangat stabil pertumbuhannya. Namun menurut Michael Turner, kebiasaan mengkoleksi saham adalah salah satu kebiasaan buruk yang paling banyak menghinggapi para investor, sekalipun sangat dianjurkan oleh ribuan konsultan investasi. Para konsultan itu menyebutkan strategi yang cerdik. Dulu memang mungkin strategy semacam itu bisa berhasil, tapi kini, Turner menyarankan kebiasaan “buy and hold” itu suatu kebiasaan yang harus dihindari jauh-jauh.

Kebiasaan mengkoleksi barang kesayangan sih tidak salah. Ada orang senang mengkoleksi barang antik, kemanapun selalu berburu barang aneh, sampai dari pasar loak Triwindu Solo hanya untuk mengejar sebuah wajan besi dari jaman Jepang. Ada juga ibu-ibu yang mengkoleksi peralatan masak, walaupun tidak pernah dipakainya. Saya punya koleksi kartu telepon yang masih berisi pulsa, tapi sekarang mau diapakan?

Tujuan bertrading saham adalah meningkatkan modal kita. Kita adalah investor bukan kolekstor. Bila kita hanya mengkoleksi saham, maka kita tidak memiliki pegangan kapan untuk menjual. Suatu sistem trading yang tidak memiliki formula untuk kapan menjual, bukanlah sistem yang lengkap. Sistem yang lengkap adalah yang memiliki WHAT dan WHEN dari setiap saham. Mungkin saja memang mengincar deviden? Tapi berapa persen deviden yang akan dibagikan, bukan dalam kendali kita sebagai investor kecil.

Sadhono Hadi