Mencari

Seorang investor selalu YAKIN bahwa rejeki itu ada di pasar Modal. Tugas sejatinya adalah mencari. Keindahannya adalah dalam berusaha menemukan. Akhirnya, kepuasannya tatkala menemukan apa yang diinginkannya
Tampilkan postingan dengan label sekuritas. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label sekuritas. Tampilkan semua postingan

Senin, 02 Desember 2013

Saham saham Gocap

Saham Gocap adalah saham yang harganya di sekitar 50 perak per saham. Mungkin dahulu saham-saham ini pernah berkibar, namun karena berbagai sebab, disengaja atau tidak meluncur turun dan sesuai dengan aturan pasar modal mentog di 50 perak, tidak boleh turun lagi. Berapa sih harga sesungguhnya saham-saham gocap ini? 40? 30? Atau bahkan nol? Tidak ada yang tahu, pasar tidak bisa menembus dibawah 50.

Seorang sahabat saya, tertawa karena saya masih menganalisa saham-saham gocap? Apa boleh buat, seluruh saham terjaring dalam radar saya, baik saham memble, apalagi saham blue-chip. Saya justru tergelitik meneliti saham gocap ini, siapa tahu ada fakta-fakta yang menarik.

Pada pengamatan penutupan 29 Nopember 2013
Jumlah saham go-cap (harga 50), 20 saham
Jumlah saham disekitar gocap (harga tidak lebih dari 55 rupiah), 5 saham
Total 25 saham atau lebih 5% dari jumlah seluruh saham yang ada di Pasar Modal Indonesia

Dari 25 saham itu, rata-rata transaksi harian (saya ukur selama 200 hari bursa)
Nol, tidak ada transaksi sama sekali (mungkin juga suspended), 2 saham (8%)
Dibawah 1 juta rupiah, 3saham  (12%)
Antara 1 juta sampai 10 juta, 3 saham (12%)
Antara 10 juta sampai 1 Milyar, 10 saham (40%)
Diatas 1 milyard, 7 saham (28%)
Jadi saham gocap banyak juga ditransaksikan, bahkan sampai belasan milyar rupiah per hari. Investor tentu bukan asal beli saham, pasti ada rencana sesuatu yang diluar jangkauan pengetahuan saya. Saya tidak tahu apa motifnya membeli saham gocap.

Apakah ada saham gocap yang triwulan 3/2013 masih mengais laba?
Ada, 6 saham atau 24%
Apakah ada saham gocap yang tahun 2012 lalu masih positif labanya?
Ada, 9 saham atau 36%

Dari sektor apa saja saham gocap ini?
Sektor transportasi 3 saham
Sektor Grosir barang durable (yang awet, tidak langsung habis dipakai) 2 saham
Fishing, perikanan 2 saham
Batubara 2 saham, dan
Bank, Investasi, telekomunikasi, makanan dan minuman, konstruksi, sekuritas, pulp, computer, hotel, makanan hewan, kimia, textile, kayu masing-masing 1 perusahaan

Last but not least, marilah kita amati saham SIPD, Sierad Produce Tbk., satu-satunya saham gocap yang transaksi hariannya cukup ramai, diatas 2 milyard rupiah per hari dan laba Triwulan 3/2013 dan laba tahunan 2012 masih positif.


Kamis, 20 Desember 2012

Volatilitas sebuah Saham


Volatilitas,  atau ukuran variasi harga sebuah instrumen keuanga  misalnya saham, sesungguhnya bersifat netral. 
Tidak memihak. 
Namun bagi sebagian investor atau pelaku pasar modal, volatilitas yang tinggi atau saham yang melonjak-lonjak seperti roller-coater ini, sangat tidak disukai. 
Sulit dipegang dan bisa menguras modal.

Namun demikian, bagi penganut analisa fundamental, ada sekelompok investor yang justru menyukai saham dengan volatilitas tinggi ini. Bagi mereka, sering kali menjadi sumber rejeki.

Sayangnya, mengukur volatilitas sebuah saham, tidak terlalu mudah. Kita harus mengukur median harga saham dalam periode tertentu, dan melihat penyebaran harga-harga tersebut. 
Untuk mengetahui penyebaran harga, kita bisa menghitung  standard deviasi yang dapat mewakili  seberapa jauh harga-harga itu tersebar dari mediannya, sehingga kita mendapatkan nilai volatilitas.
Bayangkan, untuk memilih saham-saham yang volityle, betapa banyak pekerjaan yang harus kita lakukan untuk mengukur seluruh 440 emiten di Pasar Modal.
Namun bak pepatah...... ‘kemana kepiting berlari, ujungnya selalu di piring nasi’...... kita tidak perlu menghitung volatilitas mutlak dengan cara diatas. Kita bisa mengukur volatilitas relatif, yang banyak disediakan oleh situs-situs gratis. 
Yang saya maksudkan adalah index Beta.

Beta adalah angka volatilitas sebuah saham terhadap angka sebagai bench mark, dalam hal ini adalah index gabungan. 
Jadi bila misalnya index saham ASII adalah 1.57, maka pergerakan harga ASII dibandingkan dengan volatilitas index harga gabungan adalah 1.57 kali. Kalau IHSG naik, maka ASII akan juga naik 1.57 kali, sebaliknya bila IHSG turun, maka ASII juga akan turun malah 1.57 kali lebih dalam. 
IHSG sendiri adalah rata-rata pergerakan 440 emiten.

Beberapa tip untuk mencari cuan dengan memanfaatkan volatilitas:

-   Carilah saham-saham yang fundamentalnya bagus menurut standard anda, misalnya anda dapatkan daftar 40 saham
-   Carilah dalam situs Reuters, berapa harga Beta dari saham-saham tersebut. Reuters dugaan saya menghitung dengan skala waktu 52 minggu, jadi angkanya cukup stabil.
-   Urutkan deretan saham anda dari angka Beta yang tertinggi sampai yang terendah.
-   Tentukan passing grade berapa Beta yang anda harapkan untuk memonitor, misalnya hanya Beta yang diatas 1.5 yang anda akan amati. Misalnya anda mendapatkan saham AAAA BBBB CCCC DDDD EEEE
-   Anda cukup perhatikan ke lima saham tersebut berapa harga tertinggi selama ini dan berapa terendah selama ini. Masuk pada area rendah dan jual pada area tinggi
-   Pada beberapa sekuritas, memiliki perangkat yang bisa kita setting selama satu bulan untuk menjaring saham-saham yang kita inginkan pada saat menyentuh harga yang kita harapkan.

Good luck, disclaimer on.

Senin, 17 Desember 2012

Memilih Broker


Pasar modal, sekalipun bersifat terbuka, namun seorang investor tidak bisa langsung bertransaksi ke pasar modal, bisa dibayangkan, betapa sibuk dan ruwetnya bila jutaan investor langsung berdagang di pasar. 

Kita harus memiliki pedagang perantara effek atau broker,  yaitu sebuah perusahaan Sekuritas.
Kepada broker-lah kita percayakan modal kita untuk disimpan dan dikelola, sekalipun keputusan beli atau jual berikut semua resiko tetap ditangan kita. Broker menerima  ‘fee’ berupa prosentasi dari nilai jual atau beli saham para pelanggannya. 

Nah, karena broker akan menjadi partner kepercayaan kita dalam berinvestasi, pinter-pinter lah memilih broker yang akan melayani kita.
Pertama, tentu saja realibility. Salah pilih, bertemu broker yang nakal, modal kita bisa digondol pergi. Seperti kata pepatah.......saat menjemur dendeng janganlah dititipkan ke kucing belang.

Profil atau track record perusahaan sekuritas perlu kita teliti. Syukur-syukur bila sekuritas tersebut juga perusahaan Terbuka (Tbk.,), sehingga setidaknya otoritas pasar modal ikut memeriksa laporan keuangan setiap tahun. 

Belajar dari pengalaman beberapa tahun yang lalu, saat pemilik perusahaan sekuritas terkenal kabur membawa modal pelanggannya, pasar modal saat ini meminta para investor memiliki kartu Akses. Sehingga kita dapat mengecek sendiri langsung ke pasar modal apakah transaksi kita dilakukan ‘back to back’ oleh broker ybs. Tanpa ada rekayasa macem-macem.

Ada pelaku pasar modal yang sangat concern dengan fee yang dipungut saat kita bertransaksi, namun pada saat ini dengan persaingan yang cukup tajam diantara para sekuritas maka fee yang dipungut relatif tidak terlalu besar perbedaannya antara satu broker dengan yang lain. Lagi pula bila kita bertransaksi mengikuti perhitungan dari system kita, seyogyanya hitung-menghitung fee ini jangan sampai mengganggu konsentrasi kita dalam bertransaksi.

Perlu juga dipertimbangkan, berapa ‘margin’ yang disediakan bila kita berbelanja saham melebihi modal yang kita miliki, lalu kita terpaksa ngutang dan kena bunganya. Serta berapa hari mereka memberikan tenggat waktu sebelum Forced sales (jual paksa beberapa saham untuk menutup hutang).

Tergantung gaya berinvestasi kita. Kita bisa memilih broker yang banyak membantu kita dengan data, saran dan hasil analisa sekuritas setiap hari, sehingga menolong kita dalam mengambil keputusan. Atau seperti banyak pemain pasar yang sudah memiliki system yang mantap dan confident dengan perhitungannya sendiri dan tidak perlu atau bahkan menolak berita atau issue dari para analis lain, yang justru dapat mengganggu keputusan yang sudah benar.

Sekalipun kita pelaku investasi dengan system on-line, kadang-kadang kita harus datang juga ke kantor sekuritas untuk melakukan suatu keperluan atau menandatangani formulir yang tidak dapat dilakukan secara on-line, untuk itu lebih baik kalau kita memilih broker yang lokasinya mudah dijangkau dan relative tidak jauh dari rumah atau kantor anda sekarang. Perlu dicatat....kadang-kadang untuk masalah teknis seperti down-load program dsb, kita terpaksa datang ke kantor sekuritas. Kantor sekuritas juga salah satu tempat yang terbaik untuk resque manakala computer, modem, speedy atau flash kita sedang rewel. 

Tergantung kita juga.....ada sekuritas yang tampilan layarnya sangat user friendly dan nyaman dengan segala data yang dibutuhkan, namun ada juga sekuritas yang tampil dengan data yang canggih dan malah terlalu lengkap. 
Semuanya tergantung selera anda.

Dan, cari pula Broker yang memiliki program pembekalan awal bagi para investor pemula dan program customer gathering untuk pemain lama. Dengan demikian Broker selalu menjalin hubungan timbal balik yang baik, bukan sekedar mengejar fee.

Last but not least, yang cukup penting dalah kemampuan software broker yang akan kita pilih. Pada beberapa system trading, T3B misalnya yang saat ini sangat terkenal di Indonesia, sangat mengandalkan saat ‘break-out’ dalam eksekusi pembelian. Untuk itu diperlukan broker yang memiliki programmable entry/exit, di level mana kita entry dan pada level mana kita exit, baik untuk cut loss maupun saat profit taking, secara otomatis. 
Sistem yang kurang canggih, tidak memiliki fasilitas otomatis ini, investor terpaksa secara manual memelototi pasar dan mengeksekusi secara manual.

Terakhir, jam pelayanan antrian. 
System yang baik memungkinkan kita untuk antri baik jual maupun beli setiap saat sejak jam  00:00 pada hari yang sama. Sehingga setelah anda menyusun ‘trading plan’ sampai larut malam, dapat langsung dieksekusi mulai jam 00:01 sebelum kita berangkat tidur

Sadhono

Kamis, 13 Desember 2012

Type Investor


Seorang pensiunan BUMN, sebut saja mas Tomo, tinggal di komplek perumahan ujung Timur kota Bandung.  Sejak MPP tahun 2005, ia sulit meninggalkan kebiasaan lama, selama 24 tahun masa keja. 
 Setiap pagi, ia dengan baju rapi, lengan panjang dan membawa tas, menstart Daihatsu Avansa hitam-nya, berangkat ke kantor.

Kantornya kini adalah sebuah kantor sekuritas yang terletak di kawasan bergengsi, jalan Ir.Juanda Bandung. Disanalah ia bersama teman-temannya sejak jam 09:30 pagi sampai jam 16:00 memelototi layar monitor, mengikuti pergerakan harga saham. 
Seorang analis dan beberapa petugas wanita karyawan ‘broker’ saham tersebut siap membantu mas Tomo untuk menjawab pertanyaan mas Tomo dan client-lainnya serta kadang-kadang memberi saran saham mana yang bisa dibeli dan mana yang bisa di-jual.
Di kantor yang sengaja didesain mewah dan nyaman tersebut, mas Tomo dan para investor lainnya seakan dimanjakan untuk bermain saham sepuasnya. Sekuritas menyediakan semua peralatan yang diperlukan, termasuk kalkulator, akses internet, berbagai majalah bisnis dan koran pagi. Bahkan juga segelas teh manis.
Di dinding ruangan terpasang layar TV yang menyajikan channel bisnis internasional yang dihidupkan terus selama jam kantor. Di kantor sekuritas itulah para investor ‘berkantor’ dan mereka pulang tepat jam 16:00 saat jam bursa tutup, dengan membawa portfolio, apakah asset mereka hari itu naik, turun atau tetap ( yang jarang terjadi, kecuali bila seluruh assetnya berupa cash dan dia sekedar ngobrol tidak bertransaksi)

Di kalangan investor ada dua type pelaku, yang pertama seperti yang dilakukan mas Tomo, yang setiap detik mengikuti pergerakan harga saham, naik turun. Dia masuk (membeli) atau keluar (menjual) mengikuti pergerakan harga saham yang sangat dinamis. Jenis type pemain saham ke dua, sebut saja bang Zainal, berbeda jauh dengan gaya mas Tomo.
Zainal, mulai bekerja di rumah justru setelah jam bursa tutup, dia menganalisa pergerakan saham hari itu, termasuk index dan semua informasi yang muncul hari itu. Semua informasi kemudian dibandingkan dengan data yang sudah dimiliki, bila masih dibutuhkan kemudian dia browsing ke beberapa situs saham baik dalam negeri ataupun luar negeri seperti CNN, Bloomberg, Reuters atau Yahoo-finance. Kadang-kadang dia berlangganan situs berbayar, seperti RTI, yang menyediakan antara lain laporan keuangan setiap emiten, pada setiap triwulan. Kadang-kadang dia bekerja sampai larut malam, karena dari 400 lebih emiten tidak ada yang lepas dari pengamatannya dan keesokan harinya dia sudah siap dengan sebuah ‘trading plan’ hari itu.
Pada ‘trading plan’ tersebut, tersedia rencana mengenai saham-saham yang telah dimilikinya, apakah akan ‘hold’ atau ‘sell’, lengkap dengan rencana harga serta kondisi bagaimana trading tersebut akan dieksekusi. Dia juga memiliki daftar saham baru yang akan di ‘buy’, pada kondisi atau ‘timing’ yang bagaimana, lengkap dengan harga ‘stop-loss’ atau bahkan ‘average down’, manakala harga yang terjadi tidak sesuai kondisi yang diramalkan. 
Investor type kedua ini, sering kali justru menghindari terlalu sering menengok layar monitor, mungkin dia hanya membuka computer saat antri pagi hari dan sore hari menjelang jam bursa tutup. Dia menyadari persis bahwa, dengan terlampau sering melihat layar dan mendengarkan rumor, akan mengganggu pelaksanaan rencana yang sudah dibuatnya matang semalam.

Kedua type, baik gaya mas Tomo atau gaya investor seperti Zainal, dapat dilakukan secara on-line, maupun dengan bantuan broker di kantor sekuritas. Tergantung selera, investor bebas memilih, mau gaya ‘instant’  ala mas Tomo, atau gaya well-planned seperti pelaku kedua. Tersilah.

Sadhono Hadi - 20120420