Mencari

Seorang investor selalu YAKIN bahwa rejeki itu ada di pasar Modal. Tugas sejatinya adalah mencari. Keindahannya adalah dalam berusaha menemukan. Akhirnya, kepuasannya tatkala menemukan apa yang diinginkannya

Minggu, 23 Juni 2013

Saham Sektor Perkebunan



Ada 12 perusahaan bidang perkebunan yang tercatat di Bursa Saham, yakni AALI, ANJT, BWPT, GZCO, JAWA, LSIP, MAGP, PALM, SGRO, SIMP, SMAR, TBLA, UNSP.
Market Kapitalisasi dari sector ini sekitar 96 Triyun, atau sekitar 2.5 % dari seluruh pasar modal
Dari Kapitalisasi pasar sector ini dikuasai oleh empat besar, AALI 31.4T, SMAR 21.3T, SIMP 13.6T dan LSIP 12.4T
Dibandingkan dengan harga tiga bulan yang lalu (14 Maret 2013 – 23 Juni 2013), harga saham perkebunan akhir-akhir ini mengalami goncangan yang lumayan berat. Kecuali ANJT yang baru bulan lalu melantai di Bursa, hanya SMAR yang naik kecil, semuanya mengalami penurunan harga

Sabtu, 15 Juni 2013

Deviasi Terbesar



Deviasi Terbesar

Mungkin sebagian investor menamakannya sebagai volatilitas dan memakai pendekatan (relatif) ratio Beta yang dibandingkan dengan pergerakan index. Namun karena pendekatan saya dari perhitungan matematis terhadap pilot pricenya sendiri, saya lebih senang menyebutnya deviasi. Mengamati seberapa besar deviasi dari sebuah harga terhadap harga pilotnya, mungkin ada manfaatnya bagi para investor, terutama pada keadaan index saham sedang menukik ke dasar seperti saat ini. Asumsi saya, mendapatkan saham yang deviasinya lebar berpotensi mendapatkan keuntungan yang besar saat index rebound.

Sebelum melanjutkan pembahasan, saya ingin menyamakan platform mengenai beberapa hal. Pertama berapa lama pengamatan harus diadakan? 20 hari? 30 hari? 50 hari? 100 hari? Saya mengambil 60 hari, mudah-mudahan pembaca setuju, angka ini cukup moderat, terlalu singkat kita hanya menangkap riaknya dan kehilangan gelombangnya, sedang terlalu lama keburu angkanya obsolete.

Kedua harga pilotnya. Ada dua pilihan, apakah kita menetapkan rata-rata atau harga yang paling banyak muncul yang para ahli statistik menyebutnya modus. Saya menghindari pemakaian rata-rata (moving average) untuk penelitian ini, sebab konon usernya sudah terlalu banyak, sehingga mungkin saja sudah terkontiminasi dengan banyak false signals. Sehingga untuk penelitian saya tetapkan Modus.

Nah, apakah setiap penyimpangan akan kita tampung? Tidak. Hanya 62% saja yang saya akomodir. Dari 60 hari pengamatan, setiap pemunculan harga saham saya catat dan penyimpangan yang sangat ekstrim saya abaikan, saya hanya mengumpulkan 62% dari yang tersering muncul. Inilah yang disebut oleh para mathematician sebagai Standar Deviasi = 1.

Bila platform diatas sudah sama-sama kita pahami barulah saya tetapkan rumusnya sbb. Saham yang Deviasinya terbesar adalah saham yang Ratio antara SD dengan Pilotnya (modus) paling besar. Setelah saya seleksi likuiditas dan saya keluarkan saham-saham yang anomaly, saya memiliki 20 saham terbesar deviasinya,

1              LPLI        37.92
2              INKP       35.31
3              GPRA     29.53
4              CMNP     27.32
5              APIC       22.97
6              LPCK      20.02
7              ULTJ       19.92
8              COWL    16.66
9              NIRO       16.60
10           BWPT    16.47
11           UNVR    16.17
12           PTRO      15.42
13           WSKT    15.30
14           CTRA      14.69
15           CTRP       10.84
16           TOTL       14.22
17           VIVA      13.87
18           ADRO    13.24
19           TSPC      13.13
20           KIJA       12.87

Sekali lagi daftar diatas bukan rekomendasi. Disclaimer on.

Rabu, 12 Juni 2013

Saham Jangkar 9 Juni



Saham jangkar adalah 12 urutan bontot dari Fundamen Top40 (daftar saham-saham yang fundamental bagus), saat bearish ini banyak yang harganya menembus murah, yakni harga Modus minus SD=1. Tapi seberapakah murah ini akan terus berlanjut, tidak ada seorangpun yang tahu. Minus pada area underpriced, 50 pada area Modus dan 100 pada area overpriced. Disclaimer on.


KIJA       103.09
ACES       (39.70)
BBNI       (115.78)
BMTR       (66.03)
BTPN 12.00
DILD       (70.00)
ITMG       (68.35)
KBLI (20.44)
KPIG       (84.76)
LPCK       126.80
INCO       98.80
WIKA       (30.10)

Sabtu, 08 Juni 2013

Saham Terlaris




Pasti akan banyak pendapat mengenai definisi terlaris. Terlaris karena banyak diperjual belikan? Terlaris karena jumlah transaksinya terbesar? Apakah 1000 buah transaksi mobil Toyota Avanza lebih laris dibandingkan dengan transaksi 100 Toyota Lexus yang nilai transaksinya lebih tinggi?  Ungkapan “laris” memang masih bisa diperdebatkan.

Sebagai analis saham, ijinkanlah saya membuat definisi sendiri, tentang dagangan yang laris, yakni dagangan yang modalnya sedikit tapi banyak diperjual belikan.  Bila diterapkan dalam saham, saham terlaris adalah saham yang  tertinggi ratio antara rata-rata nilai perdagangan harian dengan market capitalizationnya. Rata-rata nilai transaksi harian diamati dalam 200 hari, sedang market capitalization diukur pada saat harga terakhir. Agak panjang ya definisinya, tapi itulah yang mungkin saya bisa uraikan.

Namun untuk memudahkan perhitungan dan pemahaman, pemakaian ratio saya balik, yaitu market capitalization dibagi dengan transaksi harian. Sehingga ratio yang terkecil-lah yang terlaris. Untuk mudahnya saya berikan contoh PT Ciputra Property Tbk. (CTRP) dengan ratio 46 adalah saham yang terlaris, hanya dalam 46 HARI saja seluruh market capitalisasinya habis diperjual belikan ! Bandingkan dengan Bank Niaga (BNGA) yang memerlukan waktu lebih dari 100 tahun. Maaf kalau logika ini tidak berkenan.

Yang saya tidak habis mengerti, ternyata larisnya saham tidak berkaitan dengan prestasi fundamentalnya, beberapa saham bahkan sangat amburadul nilai fundamentalnya. Nah, menurut pengamatan saya, 20 urutan  saham yang terlaris adalah sbb.:

CTRP, 46
LCGP, 52
IATA, 56
MDRN, 59
TMPI, 60
SPMA, 68
UNSP, 72
PTRO, 84
TAXI, 89
TRAM, 90
BJTM, 92
PNLF, 114
BKSL, 125
CTRS, 142
ENRG, 149
GIAA, 155
BABP, 155
DOID, 156
DGIK, 171

Daftar diatas bukan rekomendasi lho. Disclaimer on.

Minggu, 02 Juni 2013

PBV



Banyak cara untuk mengukur apakah sebuah saham itu murah? Salah satu yang jarang dipakai orang adalah mengukur besaran PBV (Price to Book Value Ratio). Book Value adalah nilai buku dari asset  perusahaan tersebut. Jadi andaikata (andaikata lho!) perusahaan itu bangkrut, nilai yang tersisa buat para stake-holdersnya berapa? Setelah dikurangi oleh semua hutang-hutangnya, apakah masih tersisa buat pemegang saham?

Jadi jelas makin kecil nilai PBV, relatif nilai saham perusahaan tersebut makin murah. Sebaliknya makin tinggi nilai PBV-nya makin mahal sahamnya.

Namun ada yang berkilah bahwa book value tidak menghitung asset intangible (yang tidak nyata), misalnya brand name, good-will dll. TELKOM misalnya tentu ada nilai intangible yang tersimpan dalam umur perusahaan yang sudah ratusan tahun itu.

Investor tentu tidak memilih saham hanya dengan melihat PBV-nya saja toch?
Perusahaan mana yang PBVnya kecil? Berikut daftar beberapa saham yang nilai PBVnya kecil (berdasarkan harga penutupan 26/05),