Mencari

Seorang investor selalu YAKIN bahwa rejeki itu ada di pasar Modal. Tugas sejatinya adalah mencari. Keindahannya adalah dalam berusaha menemukan. Akhirnya, kepuasannya tatkala menemukan apa yang diinginkannya
Tampilkan postingan dengan label PBV. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label PBV. Tampilkan semua postingan

Kamis, 13 Februari 2014

Margin of Safety, belajar dari Benyamin Graham

Seorang sekaliber Benyamin Grahampun dengan rendah hati berkata bahwa “tidak ada seorangpun yang tahu bagaimana pasar akan berubah”, untuk itu Graham menganjurkan bahwa karena itu, kita harus pintar-pintar bereakasi terhadap pasar yang tidak menentu, sehingga masih menghasilkan untung, sekalipun pasar jatuh.

Ada nasihat yang sangat penting dari bukunya yang tebal: The Intelligent Investor, adalah konsep “margin of safety’. Inti dari konsep ini adalah menetapkan harga saham yang masih menguntungkan manakala pasar bisa anjlog sedalam-dalamnya. Graham tidak secara tegas bagaimana menerapkan konsep margin of safety ini, tapi ia mengambil salah satu methoda adalah menghitung Price per Book Value (PBV). Bila PBV dibawah dua pertiga, saham itu aman untuk di beli. Sehingga bila perusahaan itu bangkrut-pun, masih ada sisa untuk pemegang saham.


Saran Graham ini ekstrim, pengalaman saya pada pasar normal sulit menemukan saham yang fundamental bagus dengan PBV 0.66. Mungkin saat pasar pasca crash, bisa kita peroleh saham-saham yang demikian. Namun apakah saya harus berdoa pasar crash, sebelum belanja?

Minggu, 02 Juni 2013

PBV



Banyak cara untuk mengukur apakah sebuah saham itu murah? Salah satu yang jarang dipakai orang adalah mengukur besaran PBV (Price to Book Value Ratio). Book Value adalah nilai buku dari asset  perusahaan tersebut. Jadi andaikata (andaikata lho!) perusahaan itu bangkrut, nilai yang tersisa buat para stake-holdersnya berapa? Setelah dikurangi oleh semua hutang-hutangnya, apakah masih tersisa buat pemegang saham?

Jadi jelas makin kecil nilai PBV, relatif nilai saham perusahaan tersebut makin murah. Sebaliknya makin tinggi nilai PBV-nya makin mahal sahamnya.

Namun ada yang berkilah bahwa book value tidak menghitung asset intangible (yang tidak nyata), misalnya brand name, good-will dll. TELKOM misalnya tentu ada nilai intangible yang tersimpan dalam umur perusahaan yang sudah ratusan tahun itu.

Investor tentu tidak memilih saham hanya dengan melihat PBV-nya saja toch?
Perusahaan mana yang PBVnya kecil? Berikut daftar beberapa saham yang nilai PBVnya kecil (berdasarkan harga penutupan 26/05),

 

Minggu, 26 Mei 2013

ROE



Return on Equity adalah pengembalian yang dihasilkan oleh perusahaan dari setiap rupiah yang ditanamkan oleh investor. Angka ROE mencerminkan seberapa efektif investasi dari pemegang saham dikelola oleh perusahaan. Bagi saya 15% sudah cukup baik, tentu saja makin tinggi makin bagus.

Cara menghitung ROE adalah dengan membagi laba dengan equity, atau modal, atau selisih antara total asset dan total liability (hutang)

Berdasarkan laporan triwulan 1/2013, dari emitten anggota bursa ada dua saham likuid, yang sering muncul di daftar Fundamen Top40,  yang angka ROE nya betul-betul kinclong, 

 


Bagi para analis fundamental, ROE ini menjadi salah satu pertimbangan, namun tentu bukan satu-satunya pertimbangan. Disclaimer on.

Senin, 07 Januari 2013

Nasib Pemegang Saham


Seorang sahabat menanyakan tentang nasib jemuran “karak”-nya. Karak adalah kerak nasi yang hangus mengeras saat kita memasak nasi. Karak bila di jemur kering, kemudian di goreng, lumayan enak untuk camilan dikala hujan gerimis. Di Jogja karak goreng yang berdiameter lk 20 cm harganya Rp.12.000 dan bisa di peroleh di hampir semua took oleh-oleh Jogya.

Tentu saja bukan karak itu yang dimaksud, modalnya terkubur di saham KARK, yang harganya terpaku di harga minimum saham, 50 rupiah. Hampir selama satu tahun, 2012, saham PT Dayaindo Resources International ini tidak ada transaksi. Penjual tidak bisa menjual di bawah harga 50 rupiah tersebut, sedangkan pembeli tidak ada mau yang membeli pada harga minimal tersebut. Akibatnya tidak terjadi transaksi sama sekali.

Pasar Modal memang penuh resiko, itu sebabnya otoritas Pasar Modal menerapkan banyak sekali aturan yang ketat. Tidak ada jaminan modal kita akan selamat. Namun demikian, Pasar Modal tetap sangat menarik, karena potensi peningkatan kekayaan kita juga luar biasa. Sesungguhnya sahabat saya ini tidak sendirian. Ingat jutaan investor menderita kerugian saat jatuhnya Emron, Wordcom di tahun 90-an, Krisis ekonomi yang dimulai dari Thailand 1997, collapsenya Baring Bank yang diawali dari Singapore, Lehman Brothers dan masih banyak lagi contoh senasib.

Sesungguhnya mungkin modal sahabat saya itu masih ada kemungkinan diselamatkan bila dijual diluar pasar. Sekuritas yang bertalian bisa membantu menjual di pasar negosiasi, tentu saja dengan harga banting-bantingan.

Tapi apakah masih ada pembelinya?

Data yang saya peroleh sangat minimal sehingga penjelasan saya mungkin sangat tidak akurat dan banyak salahnya. Maaf. Laporan keuangan yang terakhir yang diterbitkan oleh KARK yang bisa saya peroleh adalah triwulan ke 4 tahun 2011. Selama tahun 2012 tidak ada laporan triwulan yang bisa saya peroleh, mungkin memang KARK tidak perlu melaporkan, karena perusahaan ini sedang bermasalah.

Sejak awal tahun 2012, KARK menghadapi tuntutan pailit dari perusahaan asal Swiss SUEK AG. Tuntutan ini dikabulkan oleh Pengadilan London, namun tidak dapat dieksekusi karena ternyata Pengadilan Niaga di Indonesia membatalkan keputusan tersebut. Lepas dari masalah pailit, kembali KARK dan perusahaan yang bernaung dibawahnya, PT Daya Mandiri Resources menghadapi gugatan atas hutangnya kepada BII.

Dari laporan akhir 2011, saya dapati perusahaan tambang, khususnya Batubara ini cukup bagus kondisinya.
Penjualan hampir 1 Trilyun, tepatnya 940 Milyar
Laba bersih 60 milyar, sehingga laba per saham adalah Rp. 3 cukup bagus untuk harga saham di bawah Rp. 50,
PER nya 16.2 cukup menarik dibandingkan PER industry sejenis yang saat ini sekitar 19.34.
Operating Margin, EBIT/Sales 8.5 %, memang kecil untuk perusahaan tambang tapi jauh diatas perusahaan konstruksi.
Total Asset nya 2.99 Trilyun sehingga ROA nya 2.1
Total Equitynya 2.3 Trilyun sehingga ROE nya 2.5
DER nya 0.2 sehingga sesungguhnya sangat aman, hutang kepada BII yang hanya 91 Milyar belum apa-apanya dibandingkan dengan Asset dan Equitynya.
Yang menarik, PBV (harga saham dibandingkan dengan harga bukunya) hanyalah 0.4 jadi bila keadaan keuangan 2011 dipakai sebagai patokan, sekalipun perusahaan ini pailit dan semua assetnya di jual, hutangnya dibayar, para pemilik saham masih memperoleh sisa sekitar dua kali dari harga saham sekarang!!!

Nah, saya tidak yakin penjelasan saya ini akurat, namun setidaknya mungkin bisa menjawab pertanyaan sahabat saya, mengapa KARAK nya tidak kunjung mengering. Salam.