Mencari

Seorang investor selalu YAKIN bahwa rejeki itu ada di pasar Modal. Tugas sejatinya adalah mencari. Keindahannya adalah dalam berusaha menemukan. Akhirnya, kepuasannya tatkala menemukan apa yang diinginkannya

Kamis, 07 Maret 2013

Eliminasi




Saya lupa tepatnya, mungkin awal 2009, saat itu pasar sedang bearish. Satu persatu saham yang fundamental bagus masuk dalam basket harga discount. Dalam table excel, lampu hijau menyala: BUY. Itu instruksi yang sangat sulit untuk ditolak. Tidak ada main feeling, system sudah mengatur, formula excel menetapkan IF, bobot fundamental melampaui bobot batas minimal AND harga sudah under-valued, maka lampu hijau menyala. Beli. Hari demi hari lampu hijau baru terus menyala dan pada akhir minggu saya sudah mengkoleksi 9 saham baru. Terlalu banyak memang, tapi saya percaya kepada system yang saya tetapkan sendiri secara konsisten.

Celakanya, ternyata harga-harga merosot terus. Dengan sisa modal yang ada, saya hanya mampu dua kali averaging down. Modal sudah habis untuk memborong dan tidak ada sisa lagi untuk membeli saham. Terpaksa saya melakukan langkah ELIMINASI. Saya pilih saham yang bobot fundamentalnya paling tinggi. Ternyata saya temukan saham tersebut adalah BVIC, Bank Victoria! Surprise? Sebuah Bank kecil yang tidak memiliki kantor cabang selain di Jakarta. Market Capitalisasinya juga kecil, nyaris tidak masuk threshold.

Saya teliti kembali Bank tersebut dengan melakukan deep investigasi. Growth selama 5 tahun terakhir luar biasa bagus, rata-rata diatas 30%. Tahunan maupun triwulan bagus. Margin, karena tidak banyak cost, juga bagus. Setelah yakin ini saham yang terbaik, saya putuskan BVIC untuk menjadi LAST RESORT.

Pasar terus turun, namun karena saya membeli semua saham pada harga discount, maka kadang-kadang ada untung sedikit atau kembali ke par, segera saya jual dan saya alihkan ke BVIC. Namun BVIC pun terus turun harganya, terpaksa saya memilih dari koleksi saham saya mana yang LOSS nya paling kecil, saya jual dan saya belikan kembali BVIC. Dari kisaran 140 per saham, sampai 114 per saham. Akhirnya semua saham saya telah saya jual dan tinggal satu-satunya: BVIC. Semua modal saya tertanam di BVIC. Dan saya tidak mampu lagi melawan penurunan BVIC. Surender.

Saya kira semua investor mengalami nasib yang sama. Bedanya umumnya para investor sudah melakukan stop-loss, sehingga yang tersisa adalah modal berupa CASH dan mengalami REAL LOST. Sedangkan saya modalnya juga tergerus sekitar 30%, bukan berupa dana tapi berupa SAHAM BVIC, sehingga saya baru mengalami POTENTIAL LOST, belum tentu rugi, masih ada harapan. Dan keadaan side-way dalam posisi rendah berjalan beberapa minggu, bahkan bulan. Saat itu kita hanya bisa menunggu.

Akhirnya terjadi jugalah pembalikan dan dugaan saya tepat. BVIC lah yang larinya paling kencang. Saya tidak terlalu sabar, sebelum target di kisaran 170-an, saya sudah jual di kisaran 160, yang penting saya masih bisa untung dan tidak sedikit.

Salam.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar