Mencari

Seorang investor selalu YAKIN bahwa rejeki itu ada di pasar Modal. Tugas sejatinya adalah mencari. Keindahannya adalah dalam berusaha menemukan. Akhirnya, kepuasannya tatkala menemukan apa yang diinginkannya

Senin, 07 Januari 2013

Nasib Pemegang Saham


Seorang sahabat menanyakan tentang nasib jemuran “karak”-nya. Karak adalah kerak nasi yang hangus mengeras saat kita memasak nasi. Karak bila di jemur kering, kemudian di goreng, lumayan enak untuk camilan dikala hujan gerimis. Di Jogja karak goreng yang berdiameter lk 20 cm harganya Rp.12.000 dan bisa di peroleh di hampir semua took oleh-oleh Jogya.

Tentu saja bukan karak itu yang dimaksud, modalnya terkubur di saham KARK, yang harganya terpaku di harga minimum saham, 50 rupiah. Hampir selama satu tahun, 2012, saham PT Dayaindo Resources International ini tidak ada transaksi. Penjual tidak bisa menjual di bawah harga 50 rupiah tersebut, sedangkan pembeli tidak ada mau yang membeli pada harga minimal tersebut. Akibatnya tidak terjadi transaksi sama sekali.

Pasar Modal memang penuh resiko, itu sebabnya otoritas Pasar Modal menerapkan banyak sekali aturan yang ketat. Tidak ada jaminan modal kita akan selamat. Namun demikian, Pasar Modal tetap sangat menarik, karena potensi peningkatan kekayaan kita juga luar biasa. Sesungguhnya sahabat saya ini tidak sendirian. Ingat jutaan investor menderita kerugian saat jatuhnya Emron, Wordcom di tahun 90-an, Krisis ekonomi yang dimulai dari Thailand 1997, collapsenya Baring Bank yang diawali dari Singapore, Lehman Brothers dan masih banyak lagi contoh senasib.

Sesungguhnya mungkin modal sahabat saya itu masih ada kemungkinan diselamatkan bila dijual diluar pasar. Sekuritas yang bertalian bisa membantu menjual di pasar negosiasi, tentu saja dengan harga banting-bantingan.

Tapi apakah masih ada pembelinya?

Data yang saya peroleh sangat minimal sehingga penjelasan saya mungkin sangat tidak akurat dan banyak salahnya. Maaf. Laporan keuangan yang terakhir yang diterbitkan oleh KARK yang bisa saya peroleh adalah triwulan ke 4 tahun 2011. Selama tahun 2012 tidak ada laporan triwulan yang bisa saya peroleh, mungkin memang KARK tidak perlu melaporkan, karena perusahaan ini sedang bermasalah.

Sejak awal tahun 2012, KARK menghadapi tuntutan pailit dari perusahaan asal Swiss SUEK AG. Tuntutan ini dikabulkan oleh Pengadilan London, namun tidak dapat dieksekusi karena ternyata Pengadilan Niaga di Indonesia membatalkan keputusan tersebut. Lepas dari masalah pailit, kembali KARK dan perusahaan yang bernaung dibawahnya, PT Daya Mandiri Resources menghadapi gugatan atas hutangnya kepada BII.

Dari laporan akhir 2011, saya dapati perusahaan tambang, khususnya Batubara ini cukup bagus kondisinya.
Penjualan hampir 1 Trilyun, tepatnya 940 Milyar
Laba bersih 60 milyar, sehingga laba per saham adalah Rp. 3 cukup bagus untuk harga saham di bawah Rp. 50,
PER nya 16.2 cukup menarik dibandingkan PER industry sejenis yang saat ini sekitar 19.34.
Operating Margin, EBIT/Sales 8.5 %, memang kecil untuk perusahaan tambang tapi jauh diatas perusahaan konstruksi.
Total Asset nya 2.99 Trilyun sehingga ROA nya 2.1
Total Equitynya 2.3 Trilyun sehingga ROE nya 2.5
DER nya 0.2 sehingga sesungguhnya sangat aman, hutang kepada BII yang hanya 91 Milyar belum apa-apanya dibandingkan dengan Asset dan Equitynya.
Yang menarik, PBV (harga saham dibandingkan dengan harga bukunya) hanyalah 0.4 jadi bila keadaan keuangan 2011 dipakai sebagai patokan, sekalipun perusahaan ini pailit dan semua assetnya di jual, hutangnya dibayar, para pemilik saham masih memperoleh sisa sekitar dua kali dari harga saham sekarang!!!

Nah, saya tidak yakin penjelasan saya ini akurat, namun setidaknya mungkin bisa menjawab pertanyaan sahabat saya, mengapa KARAK nya tidak kunjung mengering. Salam.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar